Mengharu Biru di Hari Ibu

 


Mengharu Biru di Hari Ibu

Herny. N


Sore itu aku agak terlambat pulang kerja. Usai rapat di kantor pusat, si biru meluncur membawaku ke sebuah pertokoan. Keluar masuk pertokoan aku bingung apa yang hendak aku beli. Tadi kudapatkan uang pengganti transport rapat dan aku ingin membelikan sesuatu untuk ibuku. Kembali pikiranku mengingat-ingat apa kiranya yang diinginkan oleh ibuku. Perempuan tua sosok ibu yang setia  menghabiskan sisa-sisa umurnya untuk mendampingi aku bersama menantu dan ketiga cucunya.

Ya, ya akhir aku ingat ibuku menginginkan kain jersey untuk gamis seperti gamis yang kupunya. Seketika itu langsung langkah kakiku kuarahkan menuju toko kain dan kubeli lengkap dengan bahan kerudungnya.

Sambil menenteng tas plastik berisi kain segera menuju parkiran dan kulajukan mobilku dengan hati berbunga-bunga membayangkan wajah ibuku begitu bahagianya  menerima bingkisan dariku. Setibanya di rumah kubuka pintu garasiku, tiba-tiba terdengar kejutan dari dalam garasi yang sempat mengagetkanku.

“Selamat, Hari Ibu” teriak ketiga anakku sambil membawa kue tar lengkap dengan lilin warna-warni serta bingkisan kecil di tangan mereka. Akupun terperangah dan baru menyadari jika hari itu tepat tanggal 22 Desember hari ibu. Hatiku teramat senang atas kejutan yang kuterima dari ketiga buah hatiku yang kebetulan cewek semua. Ciuman sayang mendarat dari mereka  di kedua pipiku. Mereka  meminta aku segera membuka bingkisan itu dan ternyata sebuah arloji cantik warna hitam putih kesukaanku

          Saat bersamaan tiba-tiba terdengar suara tangisan sesenggukan dari balik pintu dalam garasi. Kucari asal suara tangisan itu. Oh…. ternyata ibuku. Ya..ibuku. Ibuku mengintip apa yang telah dilakukan anak-anakku padaku.

“Lo, ibu kenapa?” tanyaku kebingungan. Semua kaget seluruh pandangan tertuju pada ibu.

“Enak kamu, Lisa! Anak-anakmu perhatian dan sayang padamu di Hari Ibu aja mereka memberimu kejutan, sedangkan aku! semua melupakan aku!”

Mendengar kata-kata ibu akupun hanya tersenyum, aku tahu hati ibu cemburu melihat perhatian yang diberikan anak-anak padaku.

“Kata siapa bu? Coba ibu lihat ini! Ini khusus untuk ibuku tersayang,” sambil kutunjukkan bingkisan plastik tadi. Kupeluk cium dan kuhapus air mata ibu, kemudian disusul oleh ketiga cucunya bergantian memberikan ucapan selamat Hari Ibu pada eyang utinya. Kembali kulihat senyum bahagiapun hadir disela-sela guratan wajah tuanya. Ibu… tak ada kasih yang terselip untukmu.

Banyuwangi, 22-2-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian