Postingan

LENTERA DI UJUNG PENGABDIAN

Gambar
  LENTERA DI UJUNG PENGABDIAN Oleh: Hanik Setyowati, S.Pd.,M.M Pagi itu, suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang. Langit masih gelap, tetapi di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, Bu Kinah bersiap dengan mukena dan tas kerjanya. Sudah lebih dari tiga puluh tahun ia menjalani rutinitas yang sama: bangun sebelum fajar, menunaikan salat, menyiapkan keperluan keluarga, lalu berangkat menuju madrasah yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Madrasah itu bukan sekadar tempat bekerja baginya. Di sanalah ia menemukan arti pengabdian. Ketika pertama kali menjadi guru, usianya masih sangat muda. Dengan pakaian sederhana dan semangat yang menggebu, ia memasuki kelas pertamanya. Murid-murid memandangnya dengan rasa ingin tahu. “Assalamu'alaikum, anak-anak.” “Wa'alaikumussalam, Bu Guru!” Senyum anak-anak hari itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tahun demi tahun berlalu, Bu Kinah bukan hanya mengajarkan pelajaran. Ia mengajarkan k...

Sang Violinis

Gambar
  Sang Violinis Karya Putri Novia Wulandari, S.Pd. Di dalam studio musik Universitas Sanata Dharma, denyut nadi Shella berdetak tak beraturan. Sore itu, di tengah persiapan proyek kolaborasi antara paduan suara mahasiswa Universitas Sanata Dharma dengan kelompok orkestra Universitas Negeri Yogyakarta, pandangan Shella terpaku pada satu sosok di barisan pemusik. Di sana, seorang pemain biola duduk memegang instrumennya dengan penuh penghayatan. Tubuhnya tinggi sedikit kurus, rambutnya gondrong dikuncir rapi ke belakang, dan wajahnya dibingkai sepasang kacamata yang memantulkan lampu panggung. Selama sesi latihan berlangsung, mata Shella seolah tersandera oleh sosok tersebut dalam menarik gesekan busur biola. Baru kali ini dalam hidupnya, Shella merasakan kekaguman yang begitu mendalam sejak detik pertama pandangan bersirobok, membuat dadanya bergemuruh tanpa henti. Selama ia bernyanyi, matanya tidak terlepas dari sosok tersebut. Begitu piwai tangannya menggesek senar-senar biola dan...

Cerita di Balik Gerbang Dua Bahasa

Gambar
  Cerita di Balik Gerbang Dua Bahasa Karya : Inun Fitriyani, S.Pd,M.Si Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, seperti biasa bu Sonia sudah berdiri tegak di samping gerbang utama Sekolah Menengah Pertiwi. Di tangannya terdapat papan kecil bertuliskan “English Day”. Hari ini adalah jadwal bahasa Inggris. Aturannya sederhana dan sudah berjalan dua tahun: setiap siswa yang masuk gerbang wajib menyapa guru piket menggunakan bahasa hari itu. "Good morning, Mrs. Sonia. How are you?" sapa Najwa, siswi kelas IX, dengan senyum mengembang. "Good morning, Najwa. I am fine, thank you. Excellent!" balas Bu Sonia ramah. Pembiasaan ini berjalan lancar untuk mayoritas siswa. Namun, hari itu pandangan Bu Sonia langsung tertuju pada seorang siswa laki-laki yang berjalan lambat di belakang kerumunan. Seragamnya sedikit kusut, ranselnya hanya dicangklongkan di satu bahu, dan wajahnya ditekuk dalam-dalam. Fahri. Dia adalah tantangan terbesar program ini. Setiap kali tiba giliran har...

PERUNDUNGAN

Gambar
  PERUNDUNGAN Oleh: Maemunah Tiap kata adalah luka Luka menganga didada Tergores duka nestapa Duka tiada tara terasa Terhempas dalam derita Akibat perundungan Tak terlihat tapi pasti Menghantui hari-hari Membuat jiwa rapuh Menakutkan dan mencemaskan Tiada tempat bersembunyi Dari siksaan yang menyakitkan Mari kita hadapi perundungan Dengan keberanian dan kasih sayang Mari kita hadapi perundungan Dengan menegakan kebenaran dan keadilan

Suara yang Pernah Dibungkam

Gambar
  Suara yang Pernah Dibungkam       Oleh: Erlinayah   Aku memilih lebih diam Tiada hasrat tuk berkata kata bukan karena tak punya kata, melainkan karena tawa mereka yang selalu membuat luka dihati. Namaku bahan candaan dan jadi ejekan, langkahku diukur dengan cemooh, setiap hari hinaan yang ku dengar  Tubuhku serasa mengecil..dan mengecil menyembunyikan mimpi di balik takut. Aku ingin berteriak, namun suaraku terjebak di dada, Tak mampu melawan sunyi memaksa diam dibungkam oleh tatapan dan kata yang tak pernah ramah. Tapi malam mengajariku bertahan, bahwa luka tak selamanya kalah. Di sunyi, aku merangkai keberanian dari air mata yang jatuh perlahan. hingga esok aku bangkit dengan suara sendiri. Kini aku berdiri, dengan suara yang dulu kau bungkam. Tak lagi gemetar, tak lagi sembunyi, sebab aku berhak didengar dan dihargai. karena martabatku tak pernah bisa kau ambil. Suaraku mungkin pernah patah, namun ia tumbuh lebih kuat. Dari perundungan, lahir...

Di Antara Ejekan dan Air Mata

Gambar
  Di Antara Ejekan dan Air Mata Oleh: Rofikoh Di antara ejekan dan air mata, aku belajar menunduk pada hari, menyimpan kata-kata di sudut dada, agar tak jatuh bersama luka yang sunyi. Tatapan tajam menjadi beban, tawa berubah pisau yang perlahan mengiris, namaku dipanggil tanpa empati, harga diriku diuji di hadapan banyak mata. Aku ingin berteriak, namun suaraku patah di tenggorokan, dibungkam oleh rasa takut dan kalimat yang tak pernah ramah. Namun malam mengajariku bertahan, bahwa luka tak selamanya kalah, di sunyi aku merangkai keberanian dari air mata yang jatuh tanpa suara. Kini aku berdiri dengan langkah baru, menggenggam sisa-sisa harap yang dulu hampir padam, aku belajar mencintai diriku kembali, meski bekas luka masih tinggal di dalam. Di antara ejekan dan air mata, aku menemukan makna yang tak tergantikan: aku ada, aku berharga, dan suaraku layak untuk didengarkan.   Rofikoh, BWI 241225

Stop Bulliying

Gambar
Stop Bulliying Oleh : Hanik Setyowati Jari boleh cepat mengetik, tapi hati jangan lambat berpikir. Satu kata bisa melukai, satu sikap bisa menyelamatkan. Aku lelah kuat sendirian, lelah tersenyum sambil ditertawakan. Kalau kau tak bisa menyembuhkan, tolong… jangan menambah luka. Kami datang untuk belajar, bukan untuk dihina. Kami ingin tumbuh, bukan runtuh oleh kata-kata. Sekolah nyaman tanpa bullying. Bercanda bagimu, luka bagiku. Berhenti sekarang. Stop Bullying. 24122025 Hanik S