Parade puisi folklor Banyuwangi karya guru MTsN 1 Banyuwangi

 



Parade puisi folklor Banyuwangi karya guru MTsN 1 Banyuwangi 

===

KECIPAK AIR TUNAS MUDA BELAMBANGAN

Karya Faiz Abadi

==

Adakah kita sebelum mereka

Agungkan gebyar kekinian

Apakah bisa tinggalkan sejarah

Luka rempeg Jogopati

Duka Sayu wiwit

Darah menggenang pada puputan bayu


Wahai saudara, kemerdekaan berharga mahal

Pengecut adalah penjara

Takut adalah binasa

Lari dari medan laga

Laksana biri-biri jantan terkebiri

Cinta harta menjadi berhala penghalang mata

Tanpa mereka kita jadi apa

Keteladan berpendar menjadi api sukma

Menembus langit Belambangan

Saksikan pula

Wong Agung Wilis

Terlecut cambuk zaman

Seolah Prabu Tawang Alun terus berikan perintah

" Jangan pernah tanah ini ternoda"

Sungguh ironi

Apabila tunas muda bangsa tinggalkan jati diri

Apakah mau terbang seenak sendiri

Sedang sayap Garuda terbentang luas sampai disini

===

DARI KEPULAN AROMA KOPI HINGGA WIBAWA BUYUT CHILI

Karya Faiz 


Kalau ingin tahu Banyuwangi

Mampirlah ke Kemiren

Bagai kembali ke legenda silam

Keceriaan warga desa sungguh mempesona

Masih ada sisa aura wibawa  terpancar dari wajah mereka

Lentera hidup terbias dari kesederhanaan

Buat apa kemunafikan

Jika sebabkan nurani terluka


Kopi sewu adalah sikap dermawan

Belum lagi pecel pithik tersaji untuk senua

Tak ada strata untuk sebuah keharmonisan

Lalu sempatkah berkacak pinggang pada sesama

Begitu pula puji syukur atas segenap karunia tuhan

Jiwa-jiwa mereka adalah seperti padi menunduk

Semakin berisi semakin tawadhu

Bukankah ider bumi tanda keluhuran

Rasa syukur tak pernah luntur

Meski Gebyar Banyuwangi telah mendunia


Namun tahukah mereka disana

Sila pertama telah menjadi ruh kehidupan

Buyut Chili adalah kaca religi tak pernah mati

Raga-raga warga Kemiren terus menarikan harmoni alam

Namun nama tuhan selalu di dada

=====

SETETES DARAH SANG DEWI

Karya Ansori


Belambangan!!!

Dipesisir pantai nan indah

Diselimuti pegunungan angker

Hembusan angin selat bali

Yang menusuk pori pori hingga ketulang belulang

Sesaat rasanya badan ku hempaskan dan berselimut

Bintang bertaburan di panorama malam

Dingin dingin dingin

Seorang bidadari cantik bersolek sendirian

Berkaca dan meng elus elus rambutnya yang panjang

Kulihat dari kejauhan ooooh betapa cantiknya sang dewi

Pasti sang pangeran sangat mencitainya

Rasa cemburu pasti menyelimuti hati sang pangeran

Perasaan kacau balau dilubuk hati sang pangeran semakin menggoncang

Cinta ooh cinta menggores luka di tubuh sang dewi yang halus

Terhempas lah sang dewi dengan berlumurkan darah

Oooh dewiku tidurlah kamu dengan tenang biarkan cemburu itu terhempas di deburan ombak di selat bali yang ganasss


By. ansori Rubil


======

*Gandrung Semebyar*

Karya Nuhbatul Fakhiroh Maulidia


Dalam bulir mata seorang gandrung

Ada lautan air mata, pantai Boom mengaliri

Rinai rindang bulu mata, tetumbuhan alas dan sabana

Di matamu, ada satwa liar yang menggoda


Air laut beriak, tanda sedihmu tak dalam

Bagai kelana arungi ombak plengkung

Tak kendalikan selancar

Tak akan dapat kuraihmu dengan gencar


Lempar sampur merah

Akan kupaju, hingga pulau merah 

Kerlip matamu itu, Jebeng!

Hangatkan jiwa, bagai api membiru di Ijen.


Duh, Gandrung Belambangan!

Jangan lara karena pandemi tak kunjung reda

Goyang dan hasratmu tak pernah surut 

Di mata para pemuja

Tetaplah bergoyang, dengan lirik jaran goyang 

Kau akan tetap abadi dengan kidung semebyar Belambangan.


Banyuwangi,  20 November 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian