MURUAH
Assalamualaikum,
Jumpa lagi dengan puisi karya guru MTsN 1 Banyuwangi..
Selamat menikmati...
==
[17/12 18:50] (Hanik Setyowati)
'MURUAH'
===
Apa ini yang namanya zaman modern?
Kebohongan dan kesombongan jadi bumbu kehidupan
Zaman modern jadi alasan klasik
Moral semakin hambar
Sopan santun punah
Ngeri dengan bumbu kehidupan
Warna-warni pola kehidupan
Yang ujung-ujungnya cuan
Jabatan jadi kesempatan
Cuan juga jadi acuan
Kitab moral tak mampu menyangga
Agama Pun tinggal simbol
Ya Robbi bergeser ya loby
Ya Allah kembalikan muruah sesungguhnya
Aku masih yakin ya Rabb kehadiranMu
Di setiap langkah kehidupan.
Des 2022.
Hanik
===
31.
ENGKAU DISANA AKU DISINI SEBENARNYA TAK MENGAPA
(Faiz Abadi)
***
Segenap perbedaan adalah keindahan
Tentu saja bila saling menguatkan
Bukan hanya satu
Lihatlah bersuku-suku bahkan berbangsa-bangsa
Maka sebenarnya untuk saling mengenal
Maka ciptakan perdamaian
Bukanlah terus berperang
Terus berselisih paham
Pembenaran diri sendiri
Pembenaran kelompok sendiri
Pembenaran tentang bangsa sendiri
Sungguh tak berarti
Akibatkan perbedaan faham
Lalu tak pernah tentram
Lihatlah terus lahir senjata baru
Pedang beranak badik
Sangkur bersaudara dengan tombak
Walaupun penuh kesantunan
Keris juga tercipta
Lantas kalau bukan membunuh
Untuk apa ada
Meskipun berdalih membela diri
Satu dengan satu lain
Timbullah pertengkaran
Satu bangsa dengan lain adalah peperangan
Maka bedil tercipta
Masih kurang seru
Bedil bersaudara dengan bom
Membunuh satu terasa kurang
Bunuh sebanyak-banyaknya
Harga yang mahal di medan laga
Musuh mati sedikit tak puas
Bom atom tunjukkan taringnya
Belum juga dendam terpuaskan
Nuklir siap hujamkan malapetaka
Maka hancur binasa ulah manusia juga
Mudahkah katakan takdir
Engkau disana aku disini
Kalian dimanapun kami disini
Isi kepala mesti berbeda
Walaupun begitu tetap bisa berdamai
Juga bersatu padu
Apabila tidak ada yang merasa paling benar
Apabila saling memahami
Apabila saling mengerti
Apabila tidak ada kezaliman bila di atas
Apabila taat bila diperintah kebaikan
Apabila hidup sama-sama menyembah penguasa jagad raya
Kemudian menjaga martabat antar sesama
==
18/12 10:22]
"SANDARAN"
(Hanik Setyowati)
===
H-arapan satu kehidupan
A-mbisi penuhi relung kehidupan
N-auangan-Mu hamparan masa depan
I-llahi Robbi sang Pencipta
K-elak jadi sandaran hati
S-eruan doa mengiringi langkah
E-mosi jiwa bergejolak
T-erdampar nurani dedikasi
Y-ang bergejolak, berdegup tak terkira
O-h...kadang naluri dan nurani tergoyahkan
W-aktu andil bicara
A-lasan dibalik tragedi
T-api nurani berharap tak tergoyahkan
I-llahi Robbi sandaran kehidupan.
Des 2022
Hanik S.
==
37.
[18/12 12:09]
SELAMAT HARI JADI KE 251
(Sulistyowati)
==
Usiamu semakin bertambah namun tidak nampak tua
Usiamu semakin bertambah justru engkau semakin bersolek ria
Berdandan bak anak baru gede
Semakin tua semakin mempesona menggairahkan
Namamu kian termasyur ke mana-mana
Hingga kami bangga
Menjadi bagian dari telatah ini
Tanah gemah ripah loh jinawi
Menghantarkan kami hidup makmur
Hidup rukun damai dalam keberagaman
Dalam budaya adiluhung
Perbedaan adalah anugerah terindah
Hingga tercipta alunan nada dan tari
Semarak tari gandrung menghantarkan setiap insan
Ikut bergoyang tanpa disadari
Dari ujung utara alas Baluran hingga selatan alas perawan Purwo
Dari barisan pegunungan Gumitir hingga gemulainya ombak selat Bali
Semua menjadi candu yang memabukkan
Untuk selalu datang menyinggahi mu
Aku bangga menjadi bagian walau hanya setitik abu
Kupersembahkan bakti dan karya terbaikku
Kepadamu bumi Banyuwangi
Bumi Belambangan kebanggaanku
Selamat Hari Jadi ke 251 jaya jaya jaya
Dan teruslah berjaya hingga tak berbatas usia
===
36
[18/12 12:23]
KEPAKKAN SAYAP KE ANGKASA AKHIRNYA TERJATUH JUA
(Faiz Abadi)
==
Sebagaimana elang terbang
Jiwa terkadang melanglang
Itari bumi ikuti mau
Sebagaimana rajawali
Setelah lelah pasti kembali
Pun apabila tiba waktunya
Semuapun didekap bumi
Hendak lari kemana
Jika ajal telah menanti
Musnah raga
Musnah segenap kepuasan
Apakah semua telah mengenal
Apa yang dipilih untuk dibawa serta
Ataukah masih saja hasrat bimbang
Enggan bersiap diri
Sedangkan usia sudah pada paruhnya
Ataukah badan halus begitu tersembunyi
Tertutup dinding keakuan
Juga dinding hasrat tersesat
Seolah nyata indah
Padahal penghambat jalan
Ketika hisab atas segenap pertanggungjawaban
Mana rajawali sayap semangat
Mana kebuasan singa angkara
Mana rayuan halus ular sanca
Mana nyanyi katak protes itu
Mana kecoak riak hinggap itu
Takkan terbawa oleh siapapun jua
Ketika semua pertanyaan tertuju
Pasti tertunduk iba
Maka ketika masih jaya
Seharusnya tetap waspada
Tangan, kaki, mulut pun tindakan
Jangan sampai merugikan siapapun jua
==
35.
[19/12 21:43]
SELAWASE
(Wiwik Hartatik)
===
wengi iki sesek neng ati
Bintang wulan muncolo senarono isun
Raino lan bengi
Kan sun impen2 sing ono teko
Han sun welasi wes Ilang
Mergo sing nduweni
Sing ono panggon ati iki
Sirno ilang selawase
Setuhune welas iki kanggo riko
Setuhune urip iki MUNG kanggo RIKO YA RABB
Emak Bwgi wengi iki 1912 2022
34.
[20/12 04:01]
KITA HANYA BERJUANG
(Faiz Abadi)
Kul ATIULLAH waatiurrosul
Meski terus tergiang
Namun hanya berjuang
Sejauh mana bisa
Tanpa tahu hasilnya
Sebab wajib hanya berusaha
Sungguh beruntung siapapun
Memiliki keyakinan berwujud keimanan
Adalah suatu benteng kokoh
Akan gerusan jaman
Tanpa itu hampa
Jiwa laksana pada ruang-ruang kosong
ITAQULLAH
HAQQO TUKOTIHI
Terlalu sering terdengar
Apakah kergersangan masih melanda
Jiwa haus akan ketaatan
Terkadang sering terabaikan
WALATAMUTUNA ILLA WAANTUM MUSLIMIN
Siapa yang tidak inginkan
Lahir dengan raga sempurna
Hatipun sebagai bayi suci
Harusnya kembali dengan tulus
Apakah emas permata sesungguhnya
Tidak ada kemulyaan tertinggi selain ketaqwaan
Laqod kaana lakum fi rosulillahi uswatun hasanah
Jiwa inginkan pelita
Sudah jelas contoh sempurna
Ya tuhan semesta alam
Hati mengapa dicipta berbolak-balik
Teguhkan pada kebenaran setelah engkau berikan selama ini
Meluruhlah jiwa pada iradatnya
Mana mungkin bisa
Tanpa hidayah
Tanpa pertolongan
Hamba tak pantas di surga
Tapi janganlah diletakkan di neraka
33.
[20/12 06:07]
GARIS VERTIKAL GARIS HORIZONTAL KENISCAYAAN
(Faiz Abadi)
==
Dasar pertama tentang sila pertama
Berbicara hubungan antar sesama
Adalah sila berikutnya
Adalah sumbu mendatar
Kita hidup tidak sendirian
Adalah sumbu vertikal
Kita lahir ada pencipta
Luruskah pada garisnya
Mendengar tangisan dhuafa
Hati bergetar
Menaruh iba
Mendengar nama pencipta disebutkan
Hati sangat bergetar
Angan membuncah rendah
Sebagaimana bulan, bintang-bintang
Beredar pada porosnya
Garis vertikal alam semesta
Ciptakan harmonisasi
Tapi mestinya kelak juga binasa
Sebab memang sengaja dicipta
==

Komentar
Posting Komentar