Hidup Kedua

 




Hidup Kedua

Penulis: Kur Asriatun

MTsN 1 Banyuwangi

==

Hari ini saya membaca sebuah buku. Buku i

berkisah tentang seorang perempuan.

Perempuan berwatak jahat karena lingkungannya yang membuat demikian.

Hingga dalam suatu masa di hidupnya dia mengalami sakit yang berujung kematian.

Sebut saja Mawar. Di ujung hidupnya  dia telah tahu kematian akan menjemputnya dalam sakit raganya dan juga jiwanya karena suami yang sangat dicintainya pergi bersama perempuan lain.

Mawar tidak menyalahkan suaminya. Di ujung hidupnya dia menyadari segala kesalahan, kenyinyiran dan kejahatannya menyakiti banyak orang disekelilingnya.

Ketika takdir membuatnya menutup mata, dalam hati Mawar meminta pada Rabbnya.

Seandainya diberikan kesempatan untuk mengulang episode hidupnya maka dia akan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya.

‘Angin bulan Desember mengantar kepergianku. Aku sendirian disini bersama selang-selang penyambung hidupku.

Tapi sepertinya Tuhan tidak berkenan memperpanjang hidupku. Rasanya sungguh sakit, sangat sakit ketika Dia melepas ruhku.’ (Mawar)

===

‘Dimana aku? Apakah neraka berbau desinfektan? Ataukah ini surga? Tapi mengapa tubuhku terasa sakit semua, bukankah surga tempat ternyaman tanpa sakit mendera?’ Pertanyaan itu muncul di batin Mawar. Matanya mengerjap dan memandang sekeliling. Apakah kematian yang kurasakan itu hanya mimpi? Di tengoknya jam pada hp di meja sebelah. Pukul dua malam dan matanya terbelalak kaget saat melihat tanggal disana. 10 Maret 2004 itu tanggal saat dia berusia 24 tahun . Mawar sangat terkejut hingga jantungnya berdetak kuat. Apakah Tuhan benar -benar memberinya kesempatan kedua?

‘Krek!’ Pintu kamar terbuka tampak sosok ibu yang sangat Mawar rindukan muncul dengan senyumannya.

Mawar tertegun dan menangis tersedu, ibu dipeluknya dengan suka cita karena seingatnya ibu telah tiada tanpa ada dia yang menemani. Waktu itu Mawar terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Suami? Jika benar ini tahun 2004 berarti dia belum menikah.Mawar ingat ditahun ini dia minggat dari rumah karena ibu menjodohkannya dengan seorang yang sederhana, kalem dan sangat menyayanginya. Dia bernama kak Halim tetangga sebelah rumahnya. Mawar tak bisa menerimanya karena menganggap kak Halim terlalu udik dan bukan levelnya. Kenyataannya suami yang dia banggakan pergi meninggalkannya. Sungguh Mawar menyesalinya.Dalam hati Mawar berjanji akan menggunakan kesempatan kedua ini dengan memperbaiki segala kekhilafannya, termasuk patuh pada  ibunya.

Membaca buku ini belum berakhir, tapi saya seolah mendapat asupan baru untuk terus berbuat baik meski dalam keadaan apapun. Karena sejatinya waktu tak akan pernah kembali lagi. Yang dibutuhkan bukanlah penyesalan tiada akhir tapi segera bergegas memperbaiki segalanya secara positif tanpa mengeluh dan menyalahkan.

Maka seandainya Anda mendapat kesempatan kedua, Apa kiranya yang akan anda lakukan? (Selesai)

===

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian