Pertemuan Kembali

 


Pertemuan Kembali

Karya: Putri Novia Wulandari, S.Pd.

Guru MTsN 1 Banyuwangi

====

Siang ini terasa sangat terik. Hawa panas menyeruak dari permukaan bumi menghantam kulitku. Meski aku memakai jaket lengkap dengan kaos kaki, sarung tangan, masker dan kaca mata tetap saja terik matahari itu terasa menembus kulitku. Belum lagi hawa kotor dari polusi kendaraan yang hiruk pikuk di jalanan. Ramai sekali. Padat dan bising. Apakah orang-orang juga merasakan hal yang sama sepertiku? Berlindung di dalam rumah atau mall atau coffee shop atau ruangan yang ber-AC menurutku hal yang paling benar dilakukan saat ini.

Setelah melintasi persimpangan jalan, aku belokkan motor yang ku sewa tadi pagi ke toko buku favoritku. Toko itu terletak tepat di dekat lampu lalu lintas. Toko buku yang tidak banyak berubah meski sepuluh tahun sudah, aku tidak mengunjunginya. Aku lihat masih banyak mahasiswa yang datang. Toko buku ini memang tempat yang nyaman dikunjungi saat aku masih menjadi mahasiswa dulu. Apalagi di sela-sela jam kuliah. Banyak buku-buku yang sudah terbuka segelnya. Jadi, bisa bebas membaca sambil duduk di lantai. Kalau ada uang jajan lebih ya baru bisa dibeli.

Aku melangkah masuk setelah memarkirkan motorku. Kakiku masih hafal melangkah masuk menelusuri lantai-lantainya. Aku tidak hendak mencari buku. Aku menuju ke lantai dua, ke coffee shop yang juga menjadi tempat favoritku dulu. Biasanya setelah membeli buku, aku naik ke coffee shop ini untuk membaca sambil menikmati secangkir kopi. Kadang sengaja datang untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Tempat favorit selain karena vibes cafenya yang nyaman, juga karena harga makanan dan minuman di sini sangat ramah di kantong. Maklumlah dulu jadi mahasiswa, uang makan jangan sampai dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak pokok.

Aku melangkah masuk ke dalam cafe, memilih kursi di dekat jendela besar sambil  menikmati hiruk pikuk orang-orang di luar sana. Kota ini semakin ramai saja menurutku. Hampir menyerupai ibu kota. Keindahan etnisnya hampir tergerus karena banyak orang-orang pendatang dari daerah lain. Tapi tetap saja kota ini begitu istimewa buatku. Beberapa saat kemudian, waitress datang menghampiriku. Menanyai pesananku. Aku memesan secangkir cappucino dan churros. Kemudian waitress itu kembali ke tempatnya untuk menyiapkan pesananku. 

Aku melihat ponsel. Belum ada pesan masuk. Berarti belum ada tanda-tanda dia akan berangkat menemuiku. Baiklah aku tunggu saja. Beberapa saat kemudian, pesananku datang.

“terimakasih..” ucapku pada waitress itu.

Aku melihat ponselku lagi. Belum ada pesan masuk. Aku telpon saja lah. Beberapa kali nada panggil itu belum ada jawaban. 

Tiba-tiba “halo..” suara itu muncul. Jantungku berdegub. Setelah sepuluh tahun, kudengar lagi suara itu.

“Aku sudah di sini.” jawabku.

“Oke, aku masih latihan.” Rupanya kesibukannya masih sama. Berlatih biola. Dulu, hampir separuh harinya ia gunakan untuk berlatih biola. Baiklah aku akan menunggunya sampai selesai latihan.

Dua jam berlalu. Cappucino di hadapanku sudah tidak panas lagi dan churrosku sudah tinggal setengah. Menunggu itu sangat menjemukan. Tapi tidak mungkin aku batalkan pertemuan ini. Aku melempar pandanganku ke sekeliling. Mencari-cari sosoknya. Ku rasa dia belum juga datang. Apa aku telpon lagi? Tidak lah. Kuurungkan niatku. Aku tunggu sepuluh menit lagi, jika dia tidak datang, mungkin aku harus ikhlas, penantian ini akan sia-sia. 

Lima menit berlalu. Aku menyeruput cappucinoku hingga tersisa satu tegukan. Churrosku masih tetap tinggal setengah. Tidak ada nafsu untuk mengunyahnya apalagi menelannya lagi. Pikiranku mulai kacau. Apa jangan-jangan dia enggan bertemu denganku? Apa luka di masa lalu masih membekas di dalam benaknya?

Pikiranku melayang ke sepuluh tahun yang lalu. Saat sebuah pengakuan mampu menghancurkan persahabatan kita. Saat kejujuran malah membuat luka yang akhirnya aku memilih pergi meninggalkannya. Meninggalkan dia dan kota yang begitu istimewa. Luka yang perlu disembuhkan dengan tidak lagi mendengar kabarnya selama bertahun-tahun. Namun, nihil. Selama sepuluh tahun, memang aku mampu melupakan kejadian itu sejenak. Tapi tidak pernah benar-benar hilang. Juga perasaanku kepadanya.

Sembilan menit berlalu. Aku melihat ponselku lagi. Tidak ada tanda-tanda. Kali ini aku masukkan ponselku ke dalam tas. Mungkin aku harus benar-benar melupakannya dan menghilangkan semua perasaanku kepadanya. Dan kembali aku harus pulang. Meninggalkan kota yang sudah sangat aku rindukan. Kota yang begitu istimewa. Aku berdiri dari tempat dudukku. Bersiap untuk beranjak dari cafe ini. Tiba-tiba aku mendengar suara itu. Suara yang masih jelas tersimpan meski sepuluh tahun tidak mendengarnya.  

“Hai, maaf menunggu lama.”

Leherku tercekat. Nafasku berhenti beberapa detik. Jantungku berdegub tak terkendali. Wajahnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambutnya, gayanya, masih sama. tidak ada yang berubah. 

“Hai... apa kabar?” tanyaku sembari mengulurkan tangan. Entah ekspresi apa yang ditangkap olehnya. Aku tidak mampu mengendalikan ekspresiku. Perpaduan antara rasa rindu yang membuncah, rasa sakit, kecewa, dan sayang yang masih tersimpan sejak hari itu. Saat aku memutuskan untuk pulang meninggalkannya. Meninggalkan semua masalah yang terjadi kala itu.

Ku lihat dia begitu sumringah. Tidak ada sisa-sisa kepedihan sepuluh tahun lalu. Apa mungkin sudah ia lupakan?

“Kabarku ya masih gini-gini aja. Masih tetap seperti dulu. Kamu apa kabar? Kulihat kamu yang banyak berubah.” Katanya.

Aku masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Perasaanku kepadamu juga tak pernah berubah sedikitpun. Wajah itu yang selalu menemaniku selama sepuluh tahun. Yang membuatku gagal melupakan perasaanku. Yang membuatku bertekad untuk mendatanginya kembali. Yang membuatku harus menentukan tetap tinggal atau benar-benar harus pergi meninggalkannya dan memutuskan untuk menjalani kehidupan yang baru dengan seseorang pilihan orang tuaku. Apakah aku akan mematri perasaanku dalam bingkai pertemuan kembali  ini dan bahagia bersama orang lain atau membuka lembaran baru dan kisah baru bersamamu? 

***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian