HANYA DIA SEMANGATKU ADA

 


HANYA DIA SEMANGATKU ADA

Karya: Sulistyowati

Sepertiga malam terlewati dalam doa sunyi

Dada bergemuruh mengungkapkan rasa resah

Di atas sajadah dengan tangan menengadah

Mempercayai bahwa Allah tak pernah lengah

Kapanpun mengadu pasti Allah mendengar

Sekarang telah Allah tunjukkan yang benar itu memang benar

Entah apa salah diri, apa hanya sebuah sifat iri dan dengki

Hingga harus menanggung sumpah serapah hingga caci maki

Kadang rasa Lelah menghantam diri

Seolah sabar harus harga mati

Kadang rapuh kadang luluh

Jiwa mana yang masih sanggup menanggung derita 

Kalau bukan kehendak-Nya pastilah tumbang juga 

Ingin rasanya terbang menjauh

Kadang bertanya untuk apa membersamai luka yang selalu menikam dada

Sedang Kata bahagia hanya ilusi yang tak pernah nyata

Dan demi kewarasan jiwa, mental harus tetap terjaga

Bukan hanya raga semata

Masih ada jiwa yang harus diperjuangkan

Anugerah cinta dari semesta tak mungkin tak kujaga

Hanya dia semangat berjuangku ada

Tolong jaga dan peluk dia manakala tangan tak mampu merengkuhnya


       Banyuwangi, 27 Juni 2025

       Sulistyowati

===

PELITA YANG TAK PERNAH PADAM

Karya: Sulistyowati


Di malam sunyi, saat tangis dan doamu hanya langit yang tahu,

Kau peluk anakmu dalam dekapan erat,

Dia telah pergi, tak sempat ucapkan selamat tinggal,

Dan sejak itu, hidupmu jadi medan perjuangan.

Kau jadi ibu, jadi ayah, jadi sandaran harapan,

Menggenggam mimpi anak-anak dengan tangan penuh luka,

Keringatmu bukan sekadar lelah, tapi doa-doa yang merintih,

Agar esok mereka bisa berdiri tegar menghadapi kerasnya perjuangan.

Di balik senyum yang tersungging disetiap pagi,

Ada ribuan pengorbanan yang tak pernah kau hitung,

Ada keputusan yang selalu kau pilih

Tetap berjuang demi sebuah harapan di masa depan


Kau adalah puisi yang ditulis oleh luka dan cinta,

Yang tak pernah menyerah, meski lelah

Ibu, engkau adalah pelita yang tak padam,

Meski diterpa angin dan badai kau tak peduli,

Engkau tetap menyala, demi masa depan anak-anakmu,

Dan kami bersaksi: cintamu adalah cahaya paling abadi.

Cahaya sepanjang hayat kami

Cintamu bagai matahari selalu bersinar walau mendung menghalangi



       Banyuwangi, 27 Juni 2025

       Sulistyowati



===

SUARA UNTUK NEGERI

Karya: Sulistyowati

Di tanah ini darah tertumpah, 

Bukan hanya demi kibaran bendera.

Tapi agar suara tak lagi disanggah dengan fitnah, 

Dan mulut bebas menyuarakan kata. 


Di tanah ini ribuan nyawa melayang

Tangisan pilu mengiringi gelapnya malam

Demi negeri yang kata orang zamrud khatulistiwa

Yang termasyhur hingga mancanegara


Mencintai negeri bukan sekadar pekik, 

Tapi berani berkata jujur walau pahit. 

Meski kadang dilabeli penghasut dan kritik, 

Kita tetap bersuara, bukan diam terjepit. 


Merah putih bukan hanya warna, 

Ia adalah nyawa dari semangat menyala. 

Kemerdekaan tak hanya merdeka di udara, 

Tapi juga hak bicara tanpa cela. 


Jika cinta hanya disuruh diam, 

Apa bedanya dengan zaman kelam? 

Negeri ini lahir dari nyali yang tajam, 

Bukan dari takluk yang hanya diam. 


Jadi biarkan kami mencinta dengan karya dan suara, 

Dengan tulisan, aksi, dan kata-kata. 

Karena cinta tanah air sejatinya nyata, 

Saat rakyat tak lagi takut bersuara.


Biarkan kami bersuara lantang

Ekspresikan jiwa yang merdeka

Jangan halangi kami berjuang

Wujudkan negeri yang jaya


Demi negeri tercinta

Biarkan mereka berkarya dengan caranya

Wujudkan mimpi cita-cita pahlawan bangsa

Negeri yang tak menghalangi rakyat bersuara


        Banyuwangi, 27 Juni 2025

        Sulistyowati



Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian