TOLERANSI SEJAK DINI

 



Cerpen moderasi beragama

TOLERANSI SEJAK DINI

Oleh: Einsy Yustisia Pinasti


Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.’

“Selamat pagi, anak-anak.”

Suara pria paruh baya membuyarkan video yang ditonton Faris melalui ponselnya. Seperti biasa, setiap Selasa pagi, Pak Busar, Guru Agama di SMP Nusantara selalu hadir tepat waktu di kelas. Namun, pagi itu sedikit berbeda. Kehadiran Pak Busar kali ini tidak hanya ditemani berkas administrasi pembelajarannya saja, melainkan ia datang bersama seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam berbeda. 

Sebagian siswa mulai berbisik, “Siapa anak itu?” “Apakah dia siswa baru?”

Menyadari bisikan-bisikan itu mulai berubah menjadi riuh, akhirnya Pak Busar mempersilakan anak laki-laki itu memperkenalkan diri. Ia bernama Lian yang baru saja pindah dari ibu kota dikarenakan ayahnya sedang mengembangkan bisnis di kota ini. 

Singkat perkenalannya pagi itu. Tidak butuh waktu lama bagi Lian untuk akrab dengan siswa di kelas. Terutama dengan Ibra, anak laki-laki yang menjadi teman sebangkunya. Ibra juga merupakan ketua kelas yang dikenal bersahabat dengan Faris. Mereka berdua sudah bersahabat sejak lama, selain rumah mereka berdekatan, keluarga mereka juga sering bepergian bersama. Tidak heran jika seringkali didapati di mana ada Faris di situ ada Ibra, dan sebaliknya.

“Bra, ayo ke musala! Pak Busar meminta pengurus takmir berkumpul.” ajak Faris di sela jam istirahat.

Duh, maaf, Ris. Aku sudah ada janji menemani Lian keliling sekolah. Itu juga arahan dari Pak Busar agar aku membantunya beradaptasi di sekolah ini.” jawab Ibra. 

Penolakan itu menjadi penolakan pertama yang melahirkan penolakan-penolakan Ibra terhadap ajakan Faris selanjutnya. Tanpa Ibra sadari, Faris memendam bibit kekecewaan di hatinya. Hari demi hari ia memperhatikan kedekatan Faris dan Lian yang semakin akrab dan menyenangkan. Meski begitu, sebenarnya Ibra tidak melupakan Faris begitu saja. Ibra kerap kali mengajak Faris pergi bersama. Namun, kehadiran Lian sedikit mengganggu Faris. Terlebih saat Faris mengetahui bahwa Lian beragama Kristen. Ia ingat apa yang pernah dilihatnya di media sosial, bahwa ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.’. Hal itulah yang menumbuhkan anggapan dalam diri Faris untuk tidak dekat-dekat dengan Lian.

“Kamu semakin jarang kumpul takmir, Bra.” celetuk Faris saat waktu istirahat.

“Iya, Ris. Kamu tahu sendiri, menjelang bulan Agustus selalu banyak kegiatan datang bersamaan.” jawab Ibra santai.

Alah, alasan saja. Tahun kemarin kamu tidak seperti ini, tuh. Jangan-jangan karena anak baru itu. Kamu pasti sudah terpengaruh pahamnya, jadi kamu sudah mulai malas ikut takmir.” ucap Faris sambil memastikan Lian tidak ada di sekelilingnya.

“Ya nggak begitu, Ris. Tidak ada hubungannya dengan keyakinan Lian, sama sekali tidak ada.” 

“Hati-hati, lo, Bra. Kalau kamu terlalu sering dekat-dekat dengan dia, kamu bisa jadi bagian dari kaumnya. Kalau aku sih tidak mau menodai keyakinanku, lebih baik jauh saja.”

“Maksudnya bagaimana, Ris?” Ibra mengernyit.

“Kalau kamu terlalu dekat dengan Lian, apalagi sampai main kerumahnya, lama kelamaan pasti kamu nyaman dan akan terpengaruh dengan keyakinannya, Bra. Seperti kamu sekarang ini. Kamu mulai terbiasa meninggalkan takmir. Pasti kamu sedikit demi sedikit mulai melupakan keyakinanmu sendiri.” ucap Faris.

Terkejut dengan pernyataan sahabatnya, Ibra tidak bisa berkata-kata. Faris pun juga segera berlalu meninggalkan Ibra. Perkataan Faris ternyata membekas di benak Ibra. Beberapa hari hubungan Faris dan Ibra merenggang. Faris sengaja menjauh dari Ibra dan Lian. Sedangkan Ibra, mau tidak mau selalu berdampingan tempat duduknya dengan Lian. 

Pak Busar yang mengenal baik Ibra dan Faris menyadari bahwa kedua sahabat itu sedang tidak baik-baik saja. Suatu hari, Ibra dan Faris menjadi siswa terakhir yang masih berada di musala bersama Pak Busar setelah pertemuan takmir. Pak Busar mencoba mencari tahu apa yang terjadi, namun kedua sahabat itu tetap berdiam. Akhirnya, Pak Busar mencoba menengahi dan mengajak mereka duduk bersama.

Sekitar tiga puluh menit mereka berbincang ringan, Ibra akhirnya menceritakan apa yang terjadi di antara mereka berdua. Faris pun juga menjelaskan sesuai versinya. 

“Dari sikap Faris yang seperti itu, ada hal yang paling membuat saya bertanya-tanya, Pak. Dia mengatakan kalau saya sering berkumpul dengan Lian, saya dianggap berkeyakinan sama dengan Lian. Apakah benar begitu, Pak?”

“Memangnya bagaimana yang kamu rasakan? Apakah selama kamu berteman dengan Lian keyakinanmu terhadap agamamu terusik?” tanya Pak Busar kepada Ibra.

“Sama sekali tidak, Pak. Saya bahkan tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Saya hanya murni berteman dan kebetulan ada beberapa kesamaan yang membuat kami cocok menjadi teman.” jawab Ibra.

“Benar sekali. Perlu diingat bahwa agama kita mengajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Artinya, kepada siapapun, bagaimanapun latar belakangnya, kita harus tetap menjaga hubungan yang baik. Perihal keyakinan, bukankah pernah bapak terangkan bahwa ‘untukmu agamamu dan untukku agamaku’. Perbedaan itu pasti ada, namun hendaknya kita menjunjung toleransi agar tercipta hubungan yang baik.”

“Tapi, Pak, saya pernah nonton video. Di situ diterangkan bahwa ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.’. Kalau Ibra sering dekat-dekat dengan Lian, berarti dia lama kelamaan akan berpindah agama, kan, Pak?” bantah Faris.

“Bukan begitu, Faris. Coba kamu perhatikan pertemanan Ibra dan Lian. Apakah kamu pernah melihat Ibra meninggalkan keyakinannya dan mulai ikut melaksanakan ibadah seperti yang dilakukan Lian? Ibra tadi sudah menerangkan bahwa keyakinannya terhadap agamanya tidak terusik meski terus berteman dengan Lian. Justru itu adalah bentuk toleransi terhadap perbedaan yang ada. Ibra dan Lian berteman secara tulus tanpa memandang perbedaan latar belakang agama. Karena memang harus begitu. Coba kamu bayangkan, di negara kita banyak sekali suku bangsa dan agama. Kalau kita menolak perbedaan itu, bukankah negara ini akan segera terpecah belah?,…” terang Pak Busar yang disambut heningnya kedua siswanya.

“…, Lagi pula, Ris. Bijaksanalah dalam mencerna informasi yang ada di sosial media. Cari terlebih dahulu penjelasan lebih lengkapnya, atau bertanyalah kepada orang yang memang ahlinya.” lanjut Pak Busar.

Faris semakin terdiam. Ia mencerna setiap penjelasan Pak Busar. Ia menyadari kesalahannya telah salah sangka kepada sahabatnya. Ia juga sadar telah melakukan diskriminasi kepada teman barunya, akibat dari memahami informasi media sosial secara mentah-mentah. 

“Aku minta maaf ya, Bra. Aku salah, dan aku ingin memperbaikinya. Besok kita ajak Lian main di tempat biasa, ya?”. ucap Faris disambut senyuman oleh Pak Busar dan Ibra.


TAMAT.

Banyuwangi, 9 Juli 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian