Walaupun Semua Berbeda, Tetap Satu Jiwa
Walaupun Semua Berbeda, Tetap Satu Jiwa
Karya: Windasari Nur Aniza (bu eko)
===
Mentari pagi menyapu halaman madrasah dengan hangat. Hari ini, MTs Merah Putih mengadakan Upacara Hari Kesaktian Pancasila. Seluruh siswa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah Lapangan yang ramai, terlihat Roni mengenakan baju adat Batak, Dani dengan pakaian adat Bali, dan Amar mengenakan baju koko putih dan peci hitam. Mereka berasal dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda, tapi sejak kelas satu, mereka bersahabat erat.
“Wah, keren banget baju kalian!” seru Roni sambil tersenyum.
“Kita seperti pelangi,” kata Dani. “Beda warna, tapi terlihat indah saat bersatu.”
Namun ada beberapa murid yang berpikiran berbeda. Ada anak yang mulai mengejek pakaian Dani yang menurut mereka aneh. Amar langsung maju dan berkata tegas, “Kita di sini untuk merayakan perbedaan, bukan saling mengejek”
Bu Guru Winda yang datang dan menghangatkan suasana. “Anak-anak, perbedaan bukan alasan untuk saling mengejek. Justru itulah kekayaan bangsa kita. Kita berbeda, tapi kita tetap satu jiwa—jiwa Indonesia.”
Semua murid terdiam, lalu perlahan mulai saling tersenyum. Mereka menyadari bahwa perbedaan bahasa, suku, dan agama bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan menghargai.
Di akhir acara, mereka bernyanyi bersama lagu “Tanah Airku” dengan penuh semangat. Tangan-tangan kecil mereka saling menggenggam erat.
Hari itu, di bawah langit biru dan bendera Merah Putih yang berkibar, mereka belajar satu pelajaran penting: meski semua berbeda, hati mereka tetap satu—satu jiwa Indonesia.

Komentar
Posting Komentar