Hujan bulan lalu


 

Hujan bulan lalu

Karya: Putri Novia Wulandari


Rintik hujan pagi itu menetes pelan di luar jendela kamar. Udara dingin menyusup hingga ke sela-sela selimut yang masih kukenakan. Biasanya, aku sudah bersiap, menyetrika seragam, mandi, dan memasukkan segala kebutuhan dan perlengkapan ke dalam tas. Tapi pagi ini berbeda. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam. Aku masih meringkuk, menikmati alunan rintik hujan, tanpa semangat.


Entah sejak kapan semangatku berangkat sekolah mulai menguap. Belakangan, setiap kali menginjakkan kaki di gerbang SMP Bakti Nusa, yang kurasakan justru cemas dan malu.

Dulu, sekolah adalah tempat yang membuatku bahagia. Bertemu teman-teman, bermain bersama, belajar bersama, bahkan makan bersama sambil bertukar cerita. Namun, semenjak gerombolan Barbie hidup itu melontarkan kata-kata yang menyakitkan kepadaku, kepercayaan diriku mendadak hilang dan kecemasanku semakin menghantui setiap saat. Hal ini sangat mengganggu aktivitasku.


Aku tahu, tubuhku tidak seperti mereka. Badanku gempal, kulitku sawo matang, rambutku ikal, dan wajahku kini mulai dipenuhi jerawat. Mungkin karena aku beranjak remaja, hormonku sedikit berubah yang mengakibatkan wajahku serupa cookies yang dipenuhi chocochip. Terlihat kotor dan tidak sedap dipandang. Setiap kali berjalan melewati segerombolan Barbie hidup itu, selalu saja ada bisik-bisik dan tawa kecil di belakangku. Kadang aku pura-pura tak mendengar, tapi hatiku tetap perih dan kupingku terasa panas.


Aku menarik napas panjang. Seragamku tergantung rapi di kursi, seolah menatapku dan menuntut untuk segera kukenakan. Tapi tubuhku rasanya berat sekali. Aku tak ingin berangkat, tak ingin mendengar lagi ejekan yang menempel di telinga seperti jarum. Padahal aku tahu, aku tak pernah berbuat jahat kepada siapa pun. Aku hanya kurang beruntung memiliki kondisi fisik seperti ini. Bukan karena tidak bersyukur. Bagaimanapun, kondisi fisik yang kumiliki saat ini adalah mahakarya ciptaan Sang Pencipta.


Di luar, hujan malah semakin deras. Aroma tanah basah bercampur dengan dingin pagi menyelimuti kamar. Mungkin, pikirku, hujan mengerti perasaanku yang dingin, sepi, dan murung.


Dengan langkah malas, aku bangkit, menatap wajahku di cermin. Jerawat di pipi kanan tampak lebih merah dari kemarin. Aku tersenyum pahit. “Apa aku harus terus begini?” gumamku pelan. Namun, tak ada jawaban selain suara hujan yang jatuh di atap rumah.


Aku memutuskan untuk tetap berangkat ke sekolah. Meski dalam benakku, rasanya enggan sekali berangkat karena ketakutanku akan bisikan dan tawa kecil yang mengejekku. Rasanya benar-benar seperti jarum yang menghujam telingaku. Panas dan perih. Begitupun hati dan dadaku terasa sesak. 


Sesampainya di sekolah, langkahku terasa berat. Gerbang SMP Bakti Nusa berdiri tegak seperti raksasa yang siap menelanku bulat-bulat. Aku berjalan menunduk, berharap tak ada yang memperhatikanku. Tapi harapan itu selalu sia-sia.


“Eh, tuh si gempal datang!” seru seseorang dari kejauhan.

Suara tawa segera meledak diikuti ejekan lain, “Lihat rambutnya kayak mie instan!”

Gerombolan Barbie hidup itu rupanya sengaja menunggu kedatanganku.


Aku pura-pura tidak mendengar. Aku tahu, jika aku menoleh, mereka akan semakin menjadi-jadi. Aku terus berjalan ke arah kelas, menatap ujung sepatu yang mulai kusam.


Di dalam kelas, aku duduk di bangku paling pojok belakang. Biasanya aku suka tempat itu karena tenang dan dekat dengan jendela. Tapi kini, tempat itu seperti sudut pelarian. Aku bersembunyi di sana, berharap bisa menghilang di antara deretan meja dan suara obrolan teman-teman.


Guru masuk dan pelajaran dimulai, tapi pikiranku melayang entah ke mana. Dulu, aku selalu jadi yang paling cepat mengangkat tangan saat guru bertanya. Sekarang, aku hanya menunduk, takut kalau aku jadi bahan olokan.


Setiap olokan yang mereka lontarkan seakan menempel di kepalaku. Gendut, jelek, hitam, jerawatan. Kata-kata itu terus berputar-putar di pikiranku seperti gema yang tak bisa dihentikan. Kecemasan selalu menyelimutiku setiap saat. Sebentar pergi, sebentar lagi datang. Hingga aku lupa caraku tersenyum. Hingga aku lupa bagaimana menikmati hidup. Yang kurasakan hanyalah ketakutan, kecemasan, dan ingin menghilang saja dari bumi ini.


Nilai-nilaiku mulai turun. Aku kehilangan semangat untuk belajar. Buku-buku yang dulu kususun rapi di meja kini mulai berdebu. Bahkan, saat guru memujiku karena tugas yang masih tergolong baik, aku tidak lagi merasa bangga. Semua terasa hambar.


Di rumah, ibu sering bertanya dengan nada lembut,

“Kenapa akhir-akhir ini kamu murung terus, Nak? Sekolahnya capek, ya?”


Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab,

“Iya, Bu… capek.”


Padahal bukan sekolahnya yang melelahkan, melainkan bagaimana aku harus bertahan setiap hari di antara tatapan, tawa, dan kata-kata yang membuatku merasa tak pantas ada di sana.


                                   ****


Hari-hari selanjutnya, aku benar-benar tak ingin berangkat sekolah. Sekolah bukan lagi tempat yang nyaman bagiku. Sekolah jadi tempat paling menakutkan. Tapi jadwal ujian semester yang sudah dibagikan, membuatku tak punya pilihan. Aku masih waras untuk mengerti bahwa ilmu dan nilai lebih penting dari segalanya yang menyakitkanku. Dengan langkah lesu, aku masuk ke kelas sambil menunduk.


Saat aku duduk, kudengar salah satu teman berkata cukup keras,

“Kayaknya kursinya bisa patah tuh kalau dia duduk terus.”


Tawa meledak di seluruh kelas. Beberapa bahkan menatapku sambil menahan senyum. Rasanya seperti ada yang menampar keras wajahku di depan semua orang. Dadaku sesak, mataku panas. Aku berusaha menahan air mata, tapi suara tawa mereka seperti menusuk-nusuk hatiku.


Tanpa sadar, aku berdiri dan berteriak,

“Cukup! Apa kalian nggak capek menertawakan orang lain?”


Suasana kelas mendadak hening. Beberapa tampak kaget, tapi sebagian lagi hanya tertawa kecil sambil memalingkan wajah. Aku tak sanggup menahan tangis lagi. Kutinggalkan kelas dan berlari menuju kamar mandi, mengunci diri dari dalam.


Di depan cermin, aku menatap wajahku yang basah oleh air mata.

“Apa benar aku seburuk itu?” bisikku lirih.


Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa hancur. Semua rasa percaya diri yang dulu kupunya lenyap. Aku merasa tak pantas ada di sekolah itu, bahkan tak pantas disebut manusia yang sama seperti mereka.


Namun sore itu, sepulang sekolah, ada pesan masuk ke ponselku. Rani, teman sebangkuku yang jarang bicara, tapi selalu tersenyum padaku.


"Aku minta maaf atas teman-teman kita. Aku tahu kamu nggak salah. Kamu itu anak yang pintar dan baik. Jangan biarkan kata-kata mereka bikin kamu berhenti jadi dirimu sendiri."


Pesan singkat itu membuatku terdiam. Dadaku terasa hangat untuk pertama kalinya. Ada seseorang yang melihatku. Bukan karena fisikku, tapi karena diriku yang sebenarnya.


                                       ****


Malamnya, aku berbicara jujur pada ibu tentang semua yang kualami. Ibu memelukku erat, menepuk bahuku dengan lembut.


“Nak, kamu tidak bisa mengubah orang lain, tapi kamu bisa memilih untuk tetap kuat. Dan membuktikan bahwa kata-kata yang mereka ucapkan tidak bisa menjatuhkanmu. Jangan biarkan mereka mematikan semangatmu dan mimpi-mimpimu.” kata ibu.


Sejak malam itu, aku mencoba pelan-pelan memperbaiki diri. Bukan untuk memenuhi standar siapa pun tapi untuk menghargai diriku sendiri. Aku mulai belajar lagi. Aku mulai merawat diri. Setidaknya aku lebih bersih dan rapi. Aku pupuk semangatku lagi. Aku jaga hatiku untuk tetap tangguh.


Aku tahu, aku tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Tapi setidaknya, aku bisa mulai dengan satu hal kecil: memaafkan dan tidak putus asa.


                                       ****


Kini, setiap kali hujan turun di pagi hari, aku tak lagi bersembunyi di balik selimut seperti dulu. Aku tetap berangkat sekolah, meski langkahku kadang masih ragu. Aku tahu, luka di hati ini belum sepenuhnya sembuh, tapi aku tahu bahwa aku sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Aku belajar bahwa dunia tak selalu ramah, dan tidak semua tawa berarti bahagia. Tapi di antara semua itu, selalu ada orang-orang baik yang mau memahami, seperti Ibu dan Rani.


Aku juga belajar, bahwa nilai seseorang tak pernah diukur dari warna kulit, bentuk tubuh, atau kondisi wajah. Nilai seseorang ada pada hatinya, pada keberaniannya untuk tetap berdiri meski dijatuhkan berkali-kali.


Mungkin, aku masih anak yang pendiam dan introvert. Tapi kini, aku tahu bahwa diam bukan berarti lemah. Diam bisa jadi cara untuk menenangkan diri, untuk berpikir, dan untuk membuktikan bahwa aku bisa bangkit tanpa harus membalas kebencian dengan kebencian.


Aku bukan lagi korban. Aku adalah seseorang yang sedang tumbuh, belajar memaafkan, belajar mencintai diri sendiri, dan belajar untuk tidak menyerah hanya karena dunia belum melihat keindahan dengan cara yang sama.


Hujan berhenti. Langit cerah perlahan muncul. Matahari mulai menyampaikan sinarnya lagi.

Aku tersenyum pada diriku sendiri, pada hari yang baru, pada keberanian yang akhirnya kutemukan.


Cerpen 

Banyuwangi, 05 November 2025

#stopbullying

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian