Merindukan Pagi

 


Merindukan Pagi


Oleh: Einsy Yustisia


Angin malam berhembus dengan kencangnya

Deru lalu lintas kota memekakkan telinga

Langkah kaki tak lagi berdaya

Air mata ambil alih tugasnya


Konon katanya, ramah adalah budaya

Nyatanya, erangan tak mampu hentikan derita

Hingga pada akhirnya,

Kupeluk sendiri luka yang menganga


Malam ini masih kutanya mengapa

Memori kelam seolah beradu di kepala

Ingatan keji berbekas tak sirna

Hati nurani memang tiada yang punya


Pagiku yang dahulu jelita

Bolehkah kurindu sekali saja?



Banyuwangi, 2 November 2025

02.20 WIB

#stopbullying



Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian