Topeng Kaca dan Tawa yang Mengiris



 Topeng Kaca dan Tawa yang Mengiris

Oleh: Ari Soraya Nurillah, S.Pd


Di balik tirai rumah yang dulu berhiaskan janji

Kini hanya ada panggung sunyi, penuh retakan

Ayah dan Ibu, lakon utama yang saling menyakiti

Dan aku, penonton tunggal yang menelan kehancuran

Pintu tertutup rapat, tapi drama ini tak tersembunyi

Suara-suara tajam merobek malam, membuatku menggigil

Aku tahu, dunia luar mulai berbisik, berprasangka diri

Tentang kebobrokan kami yang tak bisa lagi dipungkiri


Lalu datanglah mereka, para hakim tanpa jubah keadilan

Menunjuk-nunjuk dengan jari, menertawakan kehancuranku

Kata-kata itu menusuk, seperti belati tanpa ampun

Aku berdiri di tengah kerumunan, memaksakan senyum yang hampa

Menarik napas dalam-dalam, mengunci gemetar di ujung kaki

Di hadapan tawa mereka yang lantang, yang seolah tak punya dosa

Aku harus tetap diam, menahan lahar yang hampir membanjiri

Jika satu tetes air mata ini jatuh, semua akan terbongkar

Maka kubiarkan mataku panas, kubiarkan hati ini terluka

Sebab topeng kaca ini harus utuh, tak boleh retak dan pudar

Biarlah aku saja yang menanggung semua siksa


Banyuwangi, 5 November 2025

#stopbullying


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN LAGI MENYAKITI

Damai yang Lestari

Cinta Perdamaian