Jerit Hati di Sudut Ruang Hampa
Jerit Hati di Sudut Ruang Hampa
Karya: Inun Fitriyani
Di antara rindangnya pepohonan di depan ruang,
Di antara eloknya taman-taman di sekitar,
Suara riuh siswa beradu dengan angin pagi,
Terdengar alunan ayat dikumandangkan,
Namun di pojok ruang, ada hati yang tersembunyi, terselubung pilu
Bibir mengeja bait-bait kebaikan dan budi pekerti,
Tentang kasih sayang dan memuliakan sesama,
Namun mengapa ada lidah yang tajam menyayat?
Menggores luka pada kawan yang diam berbalut taat dan tawadhu.
Beralibi dibalik tawa yang menusuk
Tawa itu bukan canda, melainkan duri,
Yang ditancapkan pada kawan yang tak dianggap,
"Hanya bercanda," kilah mereka sambil tertawa tanpa dosa,
Tanpa sadar satu jiwa sedang meregang nyawa dalam hampa.
Mengeja kalam suci bukan jaminan hati telah jernih,
Jika masih ada jemari yang membuat mata pedih,
Jika ada lisan yang membuat hati patah teriris.
Wahai kawan…
Bukankah Baginda telah bersabda untuk saling menyayangi?
Bukankah di mata Sang Pencipta kita semua sama?
Tak ada yang lebih berkuasa
Tak ada yang lebih perkasa
Tugas kita adalah Khalifah yang saling menjaga.
Madrasah adalah taman, tempat adab disemai,
Bukan medan laga di mana yang lemah terabai dan yang perkasa berkuasa.
Ingatlah kembali pesan Sang Baginda,
Seorang muslim adalah saudara bagi lainnya,
Tak menyakiti, tak mencela, tak menghina.
Biarkan madrasah kembali menjadi rumah,
Tempat setiap jiwa merasa aman dan ramah,
Hapus tangisnya, rangkul pundaknya yang lunglai tak berdaya,
Niscaya, damai merebak sepanjang masa.
Banyuwangi, Desember 2025

Komentar
Posting Komentar