Di Antara Ejekan dan Air Mata
Di Antara Ejekan dan Air Mata
Oleh: Rofikoh
Di antara ejekan dan air mata,
aku belajar menunduk pada hari,
menyimpan kata-kata di sudut dada,
agar tak jatuh bersama luka yang sunyi.
Tatapan tajam menjadi beban,
tawa berubah pisau yang perlahan mengiris,
namaku dipanggil tanpa empati,
harga diriku diuji di hadapan banyak mata.
Aku ingin berteriak,
namun suaraku patah di tenggorokan,
dibungkam oleh rasa takut
dan kalimat yang tak pernah ramah.
Namun malam mengajariku bertahan,
bahwa luka tak selamanya kalah,
di sunyi aku merangkai keberanian
dari air mata yang jatuh tanpa suara.
Kini aku berdiri dengan langkah baru,
menggenggam sisa-sisa harap yang dulu hampir padam,
aku belajar mencintai diriku kembali,
meski bekas luka masih tinggal di dalam.
Di antara ejekan dan air mata,
aku menemukan makna yang tak tergantikan:
aku ada, aku berharga,
dan suaraku layak untuk didengarkan.
Rofikoh, BWI 241225

Komentar
Posting Komentar