Sang Violinis
Sang Violinis
Karya Putri Novia Wulandari, S.Pd.
Di dalam studio musik Universitas Sanata Dharma, denyut nadi Shella berdetak tak beraturan. Sore itu, di tengah persiapan proyek kolaborasi antara paduan suara mahasiswa Universitas Sanata Dharma dengan kelompok orkestra Universitas Negeri Yogyakarta, pandangan Shella terpaku pada satu sosok di barisan pemusik. Di sana, seorang pemain biola duduk memegang instrumennya dengan penuh penghayatan. Tubuhnya tinggi sedikit kurus, rambutnya gondrong dikuncir rapi ke belakang, dan wajahnya dibingkai sepasang kacamata yang memantulkan lampu panggung.
Selama sesi latihan berlangsung, mata Shella seolah tersandera oleh sosok tersebut dalam menarik gesekan busur biola. Baru kali ini dalam hidupnya, Shella merasakan kekaguman yang begitu mendalam sejak detik pertama pandangan bersirobok, membuat dadanya bergemuruh tanpa henti. Selama ia bernyanyi, matanya tidak terlepas dari sosok tersebut. Begitu piwai tangannya menggesek senar-senar biola dan pandangannya yang begitu serius menatap partitur. Sosok itu benar-benar membuatnya menjadi salah tingkah.
Begitu waktu istirahat diumumkan dan para pemusik mulai meletakkan alatnya, Shella tak kuasa melepaskan tatapannya, diam-diam terus mencuri pandang ke arah pria berpenampilan artistik tersebut. Hingga debaran jantungnya mendadak bergeser menjadi rasa penasaran ketika melihat sosok itu berjalan mendekati barisan tempat ia dan teman-temannya duduk.
Tiba-tiba, teman di sebelah Shella, Agnes, melambaikan tangan dengan akrab. Ada sedikit perasaan curiga dan cemburu sekejap tatkala mereka bersalaman dan bertegur sapa dengan akrab.
"Fir! Sini gabung," sapa Agnes riang ketika sosok berambut kuncir itu tiba di hadapan mereka.
Shella terpaku seketika, menahan napas saat mendengar nama yang terucap. Sosok tinggi, kurus, berkacamata, dengan rambut gondrong terkuncir yang sejak tadi ia puja dalam diam sebagai lelaki paling memesona di orkestra itu tersenyum lebar, menyapa Agnes dengan suara yang lembut, lalu mengulurkan tangan ke arah Shella sambil memperkenalkan diri sebagai Firna, seorang mahasiswi pemain biola berpenampilan tomboi yang selama ini paling diandalkan di orkestra kampus.
#fiksi
#gelismatsaba

Komentar
Posting Komentar