SETELAH MUTLAK SEPAKAT TETAP TAK MUDAH
Assalamualaikum. wr. wb.
Berjumpa lagi dengan blog sastra keluarga besar MTsN 1 Banyuwangl selamat menikmati....
SETELAH MUTLAK SEPAKAT TETAP TAK MUDAH
Karya: Faiz Abadi
===
Ku tanya lesan
Ku hampiri kaki, perut beserta segenap isi
Tak hanya itu
Segenap yang ada di dalam dada
Semuanya telah sepakat
Bahwa adanya karena tuhan semesta alam
Sampai di dada bergetar
Hingga tak terasa menjadi gemetar
Memang Dia Yang Maha Benar
Kemudian ku tengok leher merambah kepala
Tak kuasa raga serasa tersungkur
Hanya Dialah Yang Maha Besar
Berat, awalnya terasa berat
Barulah sepakat untuk untuk menyebut namaNya
Ternyata ragaku tak sendiri
Ada yang serupa dengan wajahku
Yakni jiwa sendiri
Lalu juga ku tanya
Siapakah penciptanya
Dengan mengangguk penuh rasa malu
Tiadalah yang patut disembah selain Dia
Ketakutan tiba-tiba hinggap
Raga dan jiwa sama-sama bersujud
Mutlak sepakat tak ingin melupakan asalnya
Namun sejujurnya masih ada pemberontak
Sewaktu-waktu bisa menyergap
Ku tanya Mutmainah
Apakah dia
Menggelenglah dia
Kemudian menunjuk pada nafsu lapar
Sedangkan lapar hanya tersenyum tipis
Lantas menunjuk syahwat
Yang tertawa lebar
Masih saja mengatakan bukanlah dia pemimpinnya
Namun nafsu angkara murka
Segalanya atas perintahnya
Hingga apabila buta
Lahirlah segala cara
Terang-terangan berupa kedholiman
Sembunyi-sembunyi berupa kelicikan
Semakin membabibuta
Apabila keduanya bersatu
Ternyata tak mudah
Walau kesepakatan telah mutlak
Apabila jiwa raga kalah
Terbelenggu hawa nafsu
Apalagi jika menjadi budaknya
Kesadaran saja belumlah cukup
Bwi, Nov " 22, dari kumpulan puisi " Penafsiran 5 jalan menuju pembersihan "
29.
SADARKAH DALAM PERJALANAN
Karya: Faiz Abadi
===
Dalam keheningan kesadaran mencapai puncaknya
Apalagi di malam buta ketika hujan deras
Dan petir menggelagar menyambar
Semakin sadar
Terasa benar
Hanya kurun waktu sebentar
Tidakkah perhatikan setiap nyawa
Pastilah kembali dari mana berasal
Perhatikan pula kumpulan hawa nafsu
Dia harus ada disini
Setelah raga bayi menangis
Lalu tumbuh besar
Kumpulan hawa nafsu pun tumbuh seiring usia
Detik pertama
Ketika itulah tangis pertama
Waktu itu belum teringat apa-apa
Sebagaimana pepohonan tumbuh besar
Pun hewan juga demikian
Hanya saja pepohonan mulai goyah
Ketika batang usia makin tinggi
Lihatlah angin semakin menerpa
Roboh dimakan usia
Sedangkan hewan semakin liar
Apabila tak ada kendali
Dan bayipun tak kudus lagi
Kecil lalu remaja
Remaja tumbuh dewasa
Dewasa lalu tumbuh uban
Setelah beruban mulai renta
Lantas adakah yang bisa mencegahnya
Kau tutupi apaun pada gigi tanggalmu
Sedangkan kedip mata saja
Tak ada kuasa mencegahnya
Masihkah berbantah
Bayi kudus membungkuk terikat plasenta
Tubuh renta membungkuk karena usia
Mestinya semuanya semakin tersadar
Tidaklah kita tercipta
Selain menyembah padaNya
Pada matahari Sang Ibrahim pernah percaya
Hilang yakin ketika bulan bertahta pada malam buta
Kemudian percaya ada pencipta antara keduanya
Namun tak kasat mata
Dan hanya pada jiwa iman tersembungi
Di dalamnya ada hati yang terus berbolak-balik
Mampukah semua menjaganya
===
28.
APAKAH TIDAK RINDU KEMBALI DENGAN SEMPURNA
Karya: Faiz Abadi
===
Awal lahir tak satupun menempel
Kelak bila kembali
Bukankah lepaskan semua
Begitu suci bayi
Adakah beban pada tangisan pertama
Begitu pula di akhir masa
Maukah ada beban pada tangisan sanak saudara
Ketika ditinggalkan
Jiwapun apakah tidak menangis terakhir kali
Apabila tak kudus lagi
Mengapa tak rindu kembali sempurna
Tak ingatkah
Rindu bertemu anak tercinta
Tak ingatkah
Rindu kekasih di dunia
Lupakah bila cinta pada harta
Serasa enggan melepaskannya
Bahkan tak ingat
Ada hak fakir miskin disana
Terkadang bila terlena
Bisa saja hak orang lain disana
Tidak takutkah bila dihisab
Lalu apa jawaban yang diberikan
Mengapa rindu dan cinta dunia
Membuat sanubari buta
Sedangkan semua hanya sementara
===
27.
Rinainya Tak Lagi Dirindui
Karya : Kur Asriatun
Banyuwangi, 29 November 2022
==
Sunyi menggerogoti nadi
Sepinya menyelinap di antara tebing hampa tak bertepi
Gema memohon pertolongan memantul bertubi tubi
Inikah sengsara?
Adakah yang lebih nestapa?
Ketika air bah datang menghantam tanpa aba-aba
Semua musnah, hilang seketika
Tinggal lumpur bercampur bau aneka warna
Duh…
Bilakah ini berhenti
Bukan lagi langganan yang setia menghampiri
Musim penghujan bukan lagi simfoni
Rinainya tak lagi dirindui
===
(asr)
26.
Memerangkap Bintang dalam Buaian
Karya : Kur Asriatun
Banyuwangi, 28 November 2022
===
Kawan
Rasanya malam ini bulan enggan bertandang
Sebab hujan masih tumpahkan kerinduan
Rinainya masih setia melukis malam
Kawan
Bintang yang dulu dijanjikan
Belum bisa tersemat di rambut terurai
Sebab awan hitam masih setia memeluk malam
Memerangkap bintang dalam buaian
Kawan
Bersabarlah
Menanti terwujudnya harapan
Sebab Tuhan telah pastikan
Berdoalah maka akan terkabulkan
==
(asr)
25.
Mendekap Erat Tanpa Jeda
Karya : Kur Asriatun
Banyuwangi, 30 November 2022
===
Mengapa cinta?
Entahlah, rasa itu begitu saja datang bertahta
Ingin memiliki
Tak ingin berbagi apalagi dibagi
Mendekap erat tanpa jeda
Banting tulang menjaga sepenuh jiwa raga
Padahal semuanya fana tak baka
**
Apakah ini benar cinta atau nafsu belaka?
Entahlah
Kehilangannya mampu menyakitkan jiwa
Kehilangannya menyebabkan air mata tumpah
Kehilangannya laksana padam cahaya
**
Duhai Sang Maha Agung
Jika ini benar adanya
Tenangkanlah hati kami
Teteskan anugerah ikhlas pada jiwa kami
Ketika tiba saatnya nanti
Segala yang Engkau titipkan terambil kembali
===
(asr)
Komentar
Posting Komentar