Cerita di Balik Gerbang Dua Bahasa
Cerita di Balik Gerbang Dua Bahasa
Karya : Inun Fitriyani, S.Pd,M.Si
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, seperti biasa bu Sonia sudah berdiri tegak di samping gerbang utama Sekolah Menengah Pertiwi. Di tangannya terdapat papan kecil bertuliskan “English Day”. Hari ini adalah jadwal bahasa Inggris. Aturannya sederhana dan sudah berjalan dua tahun: setiap siswa yang masuk gerbang wajib menyapa guru piket menggunakan bahasa hari itu.
"Good morning, Mrs. Sonia. How are you?" sapa Najwa, siswi kelas IX, dengan senyum mengembang.
"Good morning, Najwa. I am fine, thank you. Excellent!" balas Bu Sonia ramah.
Pembiasaan ini berjalan lancar untuk mayoritas siswa. Namun, hari itu pandangan Bu Sonia langsung tertuju pada seorang siswa laki-laki yang berjalan lambat di belakang kerumunan. Seragamnya sedikit kusut, ranselnya hanya dicangklongkan di satu bahu, dan wajahnya ditekuk dalam-dalam.
Fahri. Dia adalah tantangan terbesar program ini. Setiap kali tiba giliran harinya, Fahri selalu punya seribu cara untuk menghindar-mulai dari pura-pura mengikat tali sepatu, masuk lewat celah barisan siswa di belakang, hingga sengaja datang terlambat saat gerbang sudah sepi.
Hari ini, Fahri tidak bisa berkelit. Langkahnya terhenti tepat di depan Bu Sonia.
"Good morning, Fahri. How are you today?" sapa Bu Sonia dengan nada sehangat mungkin.
Fahri hanya diam. Matanya menatap ke arah sepatu bu Sonia. Bersungut-sungut, dia menggumam pelit, "Pagi, bu."
"Fahri, you know the rule, right? Hari ini hari apa?" tanya Bu Sonia lembut, tetap mencoba memancing respon bahasa Inggris.
"Hari Kamis, Bu. Dan saya capek," jawab Fahri ketus, beralih ke bahasa Indonesia sepenuhnya. "Lagian buat apa sih, Bu? Ribet amat. Masuk sekolah ya masuk aja. Mau pakai bahasa Arab, bahasa Inggris, tetap aja saya tinggalnya di kampung. nggak bakal kepakai!"
Beberapa siswa yang lewat sempat menoleh. Bu Sonia tidak marah. Beliau justru menepuk pundak Fahri dan mengajaknya bergeser sedikit ke dekat pos satpam agar tidak menghalangi jalur masuk siswa lain.
"Fahri, kamu suka main game online, kan? Ibu sering dengar dari guru-guru lain kamu jago main strategi," ujar Bu Sonia membuka obrolan baru.
Fahri agak terkejut, egonya sedikit terusik. "Iya, suka. Kenapa emangnya, Bu?"
"Waktu kamu main dengan tim internasional, kalian pakai bahasa apa untuk koordinasi?"
Fahri terdiam sejenak. "Ya... pakai bahasa Inggris dasar, sih. Biar paham."
"Nah, kalau hari Rabu kemarin, saat Yaumul Arabiyyah (Hari Bahasa Arab), kamu ingat tidak siapa yang datang ke sekolah kita?" tanya Bu Sonia lagi.
"Syeikh dari Mesir yang ngasih donasi buku itu?" Fahri mulai melunak.
"Betul. Bayangkan kalau tidak ada satu pun siswa kita yang bisa menyapa beliau dengan ‘Ahlan wa sahlan’ atau ‘Kaifa haluk’. Beliau pasti merasa tidak dihargai," Bu Sonia tersenyum. "Fahri, gerbang ini bukanlah ujian. Ini adalah simulasi dunia luar. Bahasa yang kamu ucapkan di sini setiap pagi adalah kunci yang sedang kita asah bersama. Suatu hari nanti, kunci itu akan membuka pintu peluang yang tidak pernah kamu duga."
Fahri memandangi tulisan di papan kecil Bu Sonia. Ada rasa bersalah yang menggelitik hatinya. Dia sadar, selama ini dia hanya malas dan merasa gengsi dilihat teman-temannya jika salah berucap.
"Saya... saya cuma takut salah ucap, Bu. Malu kalau ditertawakan," aku Fahri lirih, akhirnya jujur.
Bu Sonia tertawa kecil, menepuk bahu Fahri lebih mantap. "Tidak ada yang menertawakan proses belajar, Fahri. Kalau salah, pasti dibetulkan. Jangankan satu kalimat, satu kata pun sudah jadi kontribusi besar buat program ini, Fahri."
Mendengar itu, beban di pundak Fahri rasanya meluruh. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang selama ini dia sembunyikan di balik sikap ketusnya.
"Go... good morning, Bu Sonia. I am... fine," ucap Fahri terbata-bata, namun pelafalannya cukup jelas.
Wajah Bu Sonia langsung cerah. Senyumnya merekah lebar. "Good morning, Fahri! That is a very great start! Excellent! Sekarang, silakan masuk ke kelas."
Fahri mengangguk, melangkah melewati gerbang dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia tidak lagi merasa gerbang sekolahnya sebagai beban, melainkan sebuah jembatan menuju dunia yang lebih luas. Di belakangnya, Bu Sonia tersenyum puas, siap menyambut siswa berikutnya dengan semangat yang baru.
Banyuwangi, 28 Agustus 2026
Inun Fitriyani

Komentar
Posting Komentar