LENTERA DI UJUNG PENGABDIAN
LENTERA DI UJUNG PENGABDIAN
Oleh: Hanik Setyowati, S.Pd.,M.M
Pagi itu, suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang. Langit masih gelap, tetapi di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, Bu Kinah bersiap dengan mukena dan tas kerjanya.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun ia menjalani rutinitas yang sama: bangun sebelum fajar, menunaikan salat, menyiapkan keperluan keluarga, lalu berangkat menuju madrasah yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Madrasah itu bukan sekadar tempat bekerja baginya. Di sanalah ia menemukan arti pengabdian.
Ketika pertama kali menjadi guru, usianya masih sangat muda. Dengan pakaian sederhana dan semangat yang menggebu, ia memasuki kelas pertamanya. Murid-murid memandangnya dengan rasa ingin tahu.
“Assalamu'alaikum, anak-anak.”
“Wa'alaikumussalam, Bu Guru!”
Senyum anak-anak hari itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tahun demi tahun berlalu, Bu Kinah bukan hanya mengajarkan pelajaran. Ia mengajarkan kehidupan.
Ia mengajari anak-anak untuk jujur ketika ujian, menghormati orang tua, menyayangi teman, menjaga kebersihan, disiplin menjalankan tugas, bertanggungjawab dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Ada murid yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Ada yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Ada pula yang hampir putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, banyak murid yang datang ke madrasah sudah dengan masalah dari rumahnya.
Bu Kinah tidak pernah tega membiarkan mereka berjalan sendirian.”Guru itu bukan hanya mengajar dengan buku,” katanya suatu ketika kepada rekan sejawatnya. “Kadang anak-anak lebih membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang mau memahami.”
Ia sering menggunakan uang pribadinya untuk membantu membeli buku, alat tulis, bahkan makanan untuk murid yang membutuhkan. Namun ia tidak pernah merasa sedang berbuat sesuatu yang istimewa.
Baginya, itu hanyalah bagian dari amanah. Suatu hari, seorang siswa bernama Fikri datang terlambat ke kelas. Wajahnya terlihat murung.
“Kenapa kamu terlambat?” tanya Bu Kinah dengan lembut.
Fikri terdiam.
“Tidak apa-apa, Nak. Ceritakan kepada Ibu.”
Dengan mata berkaca-kaca, Fikri akhirnya bercerita bahwa sejak ayahnya meninggal, ia membantu ibunya bekerja sebelum berangkat sekolah.
Bu Kinah terdiam sejenak. Ia kemudian berkata,
“Fikri, Ibu bangga kamu mau membantu Ibumu. Tetapi jangan berhenti belajar. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk mengubah kehidupanmu.”
Sejak hari itu, Bu Kinah memberikan perhatian lebih kepada Fikri.
Bertahun-tahun kemudian, sebuah surat datang ke madrasah.
Fikri telah menjadi seorang guru.
Di bagian akhir surat itu tertulis:
«“Bu Kinah, dahulu Ibu mengajarkan saya bahwa keadaan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Hari ini saya menjadi guru karena Ibu pernah percaya kepada saya ketika saya sendiri hampir kehilangan kepercayaan kepada diri saya.”»
Bu Kinah membaca surat itu berkali-kali, Air matanya jatuh. Bukan karena merasa berjasa, tetapi karena ia menyadari bahwa sebuah nasihat sederhana yang diberikan dengan ketulusan ternyata dapat mengubah masa depan seseorang.
Waktu terus berjalan, Rambut Bu Kinah mulai memutih. Langkahnya tidak lagi secepat dahulu. Matanya mulai membutuhkan kacamata ketika membaca,namun semangatnya tetap sama, Setiap pagi ia masih berdiri di depan gerbang menyambut murid-murid.
“Assalamu'alaikum, Bu!”
“Wa'alaikumussalam. Sudah sarapan?”
Pertanyaan sederhana itu menjadi sapaan yang selalu dirindukan anak-anak.Hingga suatu hari, kepala madrasah memanggilnya.
“Bu Kinah, sebentar lagi Ibu memasuki masa akhir pengabdian.”
Bu Kinah tersenyum.“Waktu memang cepat sekali, Pak.”
Ada sedikit kesedihan di dalam hatinya. Madrasah yang selama puluhan tahun menjadi rumah keduanya sebentar lagi harus ia tinggalkan.
Hari terakhir masa tugasnya tiba.Madrasah mengadakan acara sederhana.Di hadapan guru, karyawan, dan murid-murid, Bu Kinah berdiri dengan mata berkaca-kaca.Ia melihat seluruh sudut madrasah yang begitu dikenalnya. Papan tulis, Bangku-bangku kelas, Masjid. Lapangan, Ruang guru, Gerbang tempat ia selama bertahun-tahun menyambut murid.
Semuanya seakan menyimpan kenangan, Kemudian seorang siswa maju memberikan bunga.“Bu, ini untuk Ibu.”Bu Kinah menerima bunga itu dengan tangan gemetar.
“Terima kasih, Nak.”
Seorang guru muda kemudian berkata,“Ibu bukan hanya meninggalkan masa tugas. Ibu meninggalkan teladan.”
Bu Kinah tersenyum.“Saya tidak ingin dikenang karena berapa lama saya menjadi guru. Saya hanya berharap pernah memberikan manfaat, walaupun sedikit.”Ia kemudian menyampaikan pesan terakhir kepada murid-muridnya.
“Anak-anakku, suatu saat kalian mungkin lupa pelajaran yang pernah Ibu ajarkan. Kalian mungkin lupa rumus, tanggal, atau tugas-tugas yang pernah kita kerjakan.”Ia berhenti sejenak, “Tetapi jangan pernah lupa untuk menjadi manusia yang baik.”Suasana menjadi hening, “Jadilah anak yang menghormati orang tua, Jadilah pribadi yang jujur. Jangan sombong ketika berhasil dan jangan menyerah ketika gagal. Dan yang paling penting, jadikan ilmu yang kalian miliki sebagai jalan untuk memberi manfaat kepada orang lain.”
Air mata mulai mengalir di wajah beberapa murid, Bu Kinah melanjutkan, “Karena pada akhirnya, seorang guru tidak akan membawa pulang nilai rapor murid-muridnya. Seorang guru hanya berharap, ilmu yang pernah diberikannya menjadi amal jariyah.”
Setelah acara selesai, Bu Kinah berjalan perlahan menuju gerbang madrasah, Ia menoleh sekali lagi. Di belakangnya berdiri bangunan yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya. Tiga puluh tahun lebih, Ribuan hari, Ribuan pelajaran, Ribuan doa, dan begitu banyak wajah anak-anak yang pernah memanggilnya, “Bu Guru.” Ia menarik napas panjang,Tidak ada kesedihan yang berlebihan hanya rasa syukur. Ia tahu, masa jabatannya sebagai guru telah berakhir, Tetapi pengabdiannya belum selesai.
Sebab seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pensiun dari kebaikan. Ilmu yang telah ia tanam akan terus tumbuh dalam diri murid-muridnya. Nasihat yang pernah ia berikan akan terus hidup dalam keluarga mereka. Keteladanan yang ia tunjukkan akan diwariskan kepada generasi berikutnya, Bu Kinah melangkah meninggalkan madrasah.Di wajahnya ada senyum, di matanya ada air mata, dan di hatinya ada doa :
“Ya Allah, terimalah setiap langkah yang pernah kulakukan untuk mendidik anak-anak ini sebagai ibadah. Jika selama mengabdi ada kekurangan, ampunilah. Jika ada kebaikan, jadikanlah itu amal jariyah yang terus mengalir meskipun langkahku telah berhenti.”
Hari itu, seorang guru meninggalkan ruang kelas, Namun ia tidak pernah meninggalkan hati murid-muridnya.
Banyuwangi 29 agustus 2026
Hanik Setyowati

Komentar
Posting Komentar